Rabu, 20 Mei 2015

Cinta Sepihak

By : Erna Safitri
CINTA! ♥   Gua selalu sial dalam hal ini, gua rasa gua enggak pernah tuh nemuin cowok yang sesuai sama kriteria gua. Yang mendekati kriteria juga kagak, semua cowok yang coba deketin gua, pada ancuurrrr. Karena itu gua masih jomblo sampe sekarang. Mungkin udah nasib percintaan gua kali yah.
Hari ini adalah tahun kedua gua memakai seragam putih abu-abu, dan status jomblo gua sekarang udah sampe ke tahap ‘Jones’, alias Jomblo Ngenesss... hiks,, hiks,,
“Duh, nih angkot lama banget sih jalannya, mana gua enggak tau lagi kelas baru gua dimana,” omel gua dalam perjalanan pergi ke SMA Bina Karya, sekolah gua, salah satu sekolah yang ada di Jakarta. Pagi ini gua bangun agak kesiangan, jadi gua jamin hari pertama gua dikelas XI akan membuat kesan yang buruk untuk guru dan teman baru gua.
Drrrtt,, Drrrtt,, Iphone merk Apple gua bergetar tanda sms masuk. Segera gua lihat siapa orang pertama yang ngesms gua pagi ini.
Dari : Keysha
Ty, kita sekelas lagii ^^ XI Ipa 2, lo dimana? Kok belum nongol?
Alhamdulillah, gua sekelas lagi sama Keysha, sahabat gua di kelas X dulu. Segera gua ketik pesan untuk membalas sms-nya.
            From : Keysha
            Serius? Bagus deh kalo gitu. Gua masih di jalan, gua duduk samping lo,
Lalu gua tekan tombol ‘send’ pada layar. Setidaknya gua enggak perlu lagi susah-susah nyari tempat duduk.
***
Gua berlari menyusuri  koridor sekolah, mencari posisi kelas gua berada. Dan ketemu!  ‘XI Ipa 2’ tertera didepan pintu. Enggak banyak pikir gua langsung masuk ke kelas itu. Beruntung belum ada guru yang masuk. Keysha melambaikan tangan. Langsung gua samperin. Keadaan kelas sunyi, semuanya dalam keadaan tenang walaupun guru belum ada, beda banget sama kondisi kelas gua yang dulu, ada gak ada guru, tetap gaduh.
Saat gua masuk, tatapan gua tertuju pada satu manusia, yang terlalu asik dengan buku yang ada di mejanya, hanya melirik siapa yang baru datang, dan kembali pada aktifitasnya. TAMPAN ABISSS! Dengan gayanya yang cuek tapi malah terlihat cool, rambut yang dipangkas rapi, sangat cocok dengan wajahnya yang cute itu. Pria yang selalu gua liat main basket pas jam istirahat saat gua masih di kelas X. Pria yang setahu gua selalu maju ke depan saat pembacaan Juara kelas di lapangan upacara. Sekelas ama dia? ya tuhan, ini KEAJAIBAN.
“Eh, lo kok telat?” Tanya Keysha membuyarkan lamunan gua. “Tadi bangun kesiangan,” jawab gua singkat. Keysha hanya menganggukan kepalanya. Gua memperhatikan sekitar, sebagian besar adalah tampang baru.
Seorang guru perempuan yang terlihat sangat anggun memasuki kelas kami. Memperkenalkan diri sebagai wali kelas sekaligus guru Matematika, namanya Bu Sri. Setelah memperkenalkan diri, gantian nama kami di panggil satu per satu. “Andi Perwana” panggil Bu Sri. Lalu pria yang gua perhatikan itu mengangkat tangannya. “Owh, namanya Andi.” Ucap gua dalam hati seraya menganggukkan kepala.
***
Hampir dua bulan gua ada di kelas baru ini. Dan gua udah kenal semua orang yang ada di kelas ini. Namun, gua sama sekali belum pernah ngomong langsung sama Andi. Gua hanya bisa memperhatikan dia dari jauh, mengagumi semua yang ada dalam dirinya. Mengagumi saat dia sering maju ke depan untuk meyelesaikan soal yang di berikan guru. Mengagumi dia saat mandi keringat karena main basket saat istirahat.
***
“Ty, kayaknya gua naksir orang nih,” kata Keysha memulai sesi curhatannya. Itulah Keysha, selalu terbuka tentang apapun ke gua, termasuk masalah cowok. Beda dengan gua, gak pernah terbuka soal taksir menaksir cowok, karena terlalu pesimis, gak percaya diri.
“Siapa? Siapa? Anak sekolah kita atau sekolah lain?” Tanya gua antusias. Karena biasanya cowok yang jadi pacarnya Keysha pasti Keren. Maklumlah, wajah Keysha yang baby face itu pasti membuat kaum adam tertarik padanya.
“Lo pasti udah tau orangnya, itu si Andi,,” cerita Keysha dengan semangatnya. Nama itu seakan terdengar familiar, tidak asing di telinga. “Andi mana nih?” Tanya gua dengan nada tak bersemangat. “Tolong Key, jangan bilang Andi temen sekelas kita,” pinta gua dalam hati.
“Masa lo enggak tau sih, Andi temen sekelas kita itu loh,” kata Keysha. “Ternyata gua tinggal satu perumahan loh sama dia, cuma beda kompleks doank, kesempatan gua pedekate terbuka lebar ty,,” ceritanya panjang lebar.
“Oh ya? Bagus deh kalau gitu,,” ucap gua dengan senyum, senyum yang dipaksakan. Entah kenapa hati gua rasanya teriris-iris mendengar pengakuan dari sahabat gua itu. Gua sadar, kalau dilihat dari fisik gua enggak ada apa-apanya dibanding Keysha. Gua enggak mungkin kan bersaing sama sahabat sendiri hanya karena cowok. Dan gua juga sebatas mengagumi Andi, bukan ‘Jatuh Cinta’.
***
“Do’ain gua ya ty, hari ini gua bakal pulang bareng sama Andi,” ucap Keysha dengan wajah yang ceria, pipinya sampai terlihat merah, mungkin karena gugup. “Semoga pedekate lo  sukses yah,” kata gua memberi semangat tersenyum, senyum hambar. Seminggu ini Keysha memang terlihat mendekati Andi.
***
Mereka berdua lewat dihadapan gua, air mata yang sudah lama tertahan di kelopak mata ini langsung tumpah. Hati gua yang luka, seakan disirami dengan air cuka. Perih! Gua enggak paham, mungkin rasa kagum gua selama ini telah berubah menjadi SUKA, atau malah CINTA? Tapi terlambat, gua harus merelakan orang itu demi Keysha, sahabat gua.

Seperti yang sering gua dengar, cinta itu tak harus memiliki. Mungkin terdengar aneh dan bodoh jika mengalah dan menyerah terhadap cinta, bahkan saat belum dimulai sama sekali. Tapi itu adalah pilihan gua. Mumpung perasaan gua masih dangkal, mungkin cinta sepihak gua bisa secepatnya terlupakan. Gua hanya perlu mencari pria lain yang bisa menarik perhatian gua, seperti Andi. Gua yakin, sebentar lagi pasti perasaan gua akan cepat berlalu. Karena sekarang, mengungkapkan perasaan pun tak ada gunanya. Mungkin diam ini lebih berharga, daripada bicara namun membuat orang lain merasa tak bahagia.

Selasa, 19 Mei 2015

KAU

Karya : Erna Safitri
Kau tumbuhkan benih cinta
Lewat tutur katamu
Mengusik jiwa dalam ketenangan

Kau hadirkan getaran rindu
Lewat senyum indahmu
Menggugah batin dalam ketenangan

Kau juga yang menyayat hati
Hingga perih menghampiri tak mau pergi

Kau juga yang menghempaskan mimpi indah
Menenggelamkan cinta dan menumbukan luka yang paling dalam

Senin, 18 Mei 2015

Tanpa Aku

Short by : Erna Safitri



Tak ada lagi kata kita
Hanya kalian, tanpa aku
Tak ada lagi kata kami
Hanya mereka, tanpa tanpa aku

Dulu berempat,
Sekarang bertiga, tanpa aku,

Hanya bertiga,
Hanya berdua,
Hanya sendiri,
Tanpa aku

Kadang merindu tawa bersama,
Kadang merindu canda bersama,


Cukup aku, tanpa kamu