By : Erna Safitri
CINTA! ♥ Gua selalu sial dalam hal ini, gua rasa gua enggak
pernah tuh nemuin cowok yang sesuai sama kriteria gua. Yang mendekati kriteria
juga kagak, semua cowok yang coba deketin gua, pada ancuurrrr. Karena itu gua
masih jomblo sampe sekarang. Mungkin udah nasib percintaan gua kali yah.
Hari ini adalah tahun kedua gua memakai seragam
putih abu-abu, dan status jomblo gua sekarang udah sampe ke tahap ‘Jones’,
alias Jomblo Ngenesss... hiks,, hiks,,
“Duh, nih angkot lama banget sih jalannya, mana
gua enggak tau lagi kelas baru gua dimana,” omel gua dalam perjalanan pergi ke
SMA Bina Karya, sekolah gua, salah satu sekolah yang ada di Jakarta. Pagi ini
gua bangun agak kesiangan, jadi gua jamin hari pertama gua dikelas XI akan
membuat kesan yang buruk untuk guru dan teman baru gua.
Drrrtt,, Drrrtt,, Iphone merk Apple gua
bergetar tanda sms masuk. Segera gua lihat siapa orang pertama yang ngesms gua
pagi ini.
Dari
: Keysha
Ty,
kita sekelas lagii ^^ XI Ipa 2, lo dimana? Kok belum nongol?
Alhamdulillah, gua sekelas lagi sama Keysha, sahabat gua di kelas X
dulu. Segera gua ketik pesan untuk membalas sms-nya.
From
: Keysha
Serius?
Bagus deh kalo gitu. Gua masih di jalan, gua duduk samping lo,
Lalu gua tekan tombol ‘send’
pada layar. Setidaknya gua enggak perlu lagi susah-susah nyari tempat duduk.
***
Gua berlari menyusuri koridor sekolah, mencari posisi kelas gua
berada. Dan ketemu! ‘XI Ipa 2’ tertera
didepan pintu. Enggak banyak pikir gua langsung masuk ke kelas itu. Beruntung
belum ada guru yang masuk. Keysha melambaikan tangan. Langsung gua samperin.
Keadaan kelas sunyi, semuanya dalam keadaan tenang walaupun guru belum ada,
beda banget sama kondisi kelas gua yang dulu, ada gak ada guru, tetap gaduh.
Saat gua masuk, tatapan gua tertuju pada satu
manusia, yang terlalu asik dengan buku yang ada di mejanya, hanya melirik siapa
yang baru datang, dan kembali pada aktifitasnya. TAMPAN ABISSS! Dengan gayanya
yang cuek tapi malah terlihat cool, rambut
yang dipangkas rapi, sangat cocok dengan wajahnya yang cute itu. Pria yang selalu gua liat main basket pas jam istirahat
saat gua masih di kelas X. Pria yang setahu gua selalu maju ke depan saat
pembacaan Juara kelas di lapangan upacara. Sekelas ama dia? ya tuhan, ini
KEAJAIBAN.
“Eh, lo kok telat?” Tanya Keysha membuyarkan
lamunan gua. “Tadi bangun kesiangan,” jawab gua singkat. Keysha hanya
menganggukan kepalanya. Gua memperhatikan sekitar, sebagian besar adalah
tampang baru.
Seorang guru perempuan yang terlihat sangat
anggun memasuki kelas kami. Memperkenalkan diri sebagai wali kelas sekaligus
guru Matematika, namanya Bu Sri. Setelah memperkenalkan diri, gantian nama kami
di panggil satu per satu. “Andi Perwana” panggil Bu Sri. Lalu pria yang gua
perhatikan itu mengangkat tangannya. “Owh, namanya Andi.” Ucap gua dalam hati
seraya menganggukkan kepala.
***
Hampir dua bulan gua ada di kelas baru ini. Dan
gua udah kenal semua orang yang ada di kelas ini. Namun, gua sama sekali belum
pernah ngomong langsung sama Andi. Gua hanya bisa memperhatikan dia dari jauh,
mengagumi semua yang ada dalam dirinya. Mengagumi saat dia sering maju ke depan
untuk meyelesaikan soal yang di berikan guru. Mengagumi dia saat mandi keringat
karena main basket saat istirahat.
***
“Ty, kayaknya gua naksir orang nih,” kata Keysha
memulai sesi curhatannya. Itulah Keysha, selalu terbuka tentang apapun ke gua,
termasuk masalah cowok. Beda dengan gua, gak pernah terbuka soal taksir
menaksir cowok, karena terlalu pesimis, gak percaya diri.
“Siapa? Siapa? Anak sekolah kita atau sekolah
lain?” Tanya gua antusias. Karena biasanya cowok yang jadi pacarnya Keysha
pasti Keren. Maklumlah, wajah Keysha yang baby
face itu pasti membuat kaum adam tertarik padanya.
“Lo pasti udah tau orangnya, itu si Andi,,”
cerita Keysha dengan semangatnya. Nama itu seakan terdengar familiar, tidak
asing di telinga. “Andi mana nih?” Tanya gua dengan nada tak bersemangat.
“Tolong Key, jangan bilang Andi temen sekelas kita,” pinta gua dalam hati.
“Masa lo enggak tau sih, Andi temen sekelas
kita itu loh,” kata Keysha. “Ternyata gua tinggal satu perumahan loh sama dia,
cuma beda kompleks doank, kesempatan gua pedekate
terbuka lebar ty,,” ceritanya panjang lebar.
“Oh ya? Bagus deh kalau gitu,,” ucap gua dengan
senyum, senyum yang dipaksakan. Entah kenapa hati gua rasanya teriris-iris
mendengar pengakuan dari sahabat gua itu. Gua sadar, kalau dilihat dari fisik
gua enggak ada apa-apanya dibanding Keysha. Gua enggak mungkin kan bersaing
sama sahabat sendiri hanya karena cowok. Dan gua juga sebatas mengagumi Andi,
bukan ‘Jatuh Cinta’.
***
“Do’ain gua ya ty, hari ini gua bakal pulang
bareng sama Andi,” ucap Keysha dengan wajah yang ceria, pipinya sampai terlihat
merah, mungkin karena gugup. “Semoga pedekate
lo sukses yah,” kata gua memberi
semangat tersenyum, senyum hambar. Seminggu ini Keysha memang terlihat
mendekati Andi.
***
Mereka berdua lewat dihadapan gua, air mata
yang sudah lama tertahan di kelopak mata ini langsung tumpah. Hati gua yang
luka, seakan disirami dengan air cuka. Perih! Gua enggak paham, mungkin rasa
kagum gua selama ini telah berubah menjadi SUKA, atau malah CINTA? Tapi
terlambat, gua harus merelakan orang itu demi Keysha, sahabat gua.
Seperti yang sering gua dengar, cinta itu tak
harus memiliki. Mungkin terdengar aneh dan bodoh jika mengalah dan menyerah
terhadap cinta, bahkan saat belum dimulai sama sekali. Tapi itu adalah pilihan
gua. Mumpung perasaan gua masih dangkal, mungkin cinta sepihak gua bisa
secepatnya terlupakan. Gua hanya perlu mencari pria lain yang bisa menarik
perhatian gua, seperti Andi. Gua yakin, sebentar lagi pasti perasaan gua akan
cepat berlalu. Karena sekarang, mengungkapkan perasaan pun tak ada gunanya.
Mungkin diam ini lebih berharga, daripada bicara namun membuat orang lain
merasa tak bahagia.
