Selasa, 30 Juni 2015

Hari ini, Esok, dan Seterusnya

By: Erna Safitri
“Maaf ndi, gua gak bisa jadi pacar lo” ucap Rasty, gadis yang menarik perhatianku sejak awal aku menginjak masa putih abu-abu.
Dia berbicara sambil menunduk disertai suara yang sangat berat. Aku merasa, dia tak rela. Tapi mungkin hanya perasaanku saja. Aku tak rela lebih tepatnya.
“Gua ngerti, gua harap kita tetap bisa jadi teman,”
“Gak! Jadi teman pun gua rasa gak bisa. Maaf,” tegasnya seraya pergi meninggalkanku sendiri dalam diam.
ooo
Kata-kata Rasty terus berputar dalam kepalaku. Dadaku terasa sesak. Kesulitan bernapas. Kata-katanya kemarin, walaupun singkat, cukup meninggalkan luka yang dalam.
Melupakannya tak semudah saat aku mulai mencintainya. Ditambah lagi aku harus bertemu dengannya setiap hari karena berada di kelas yang sama. Tak sedetik pun ku lewati tanpa memperhatikannya.
Namun ada yang berbeda dengan gadis yang baru menolakku dalam seminggu ini. Wajah cerianya yang membuatku selalu damai ‘hilang’. Dia terlihat begitu murung. Kantung matanya terlihat lebih hitam.
Meski tak ada hubungan apapun, hatiku tetap terasa perih melihatnya seperti itu. Perih saat melihat gadis yang masih aku cintai terlihat menderita. Entah apa yang menjadi penyebabnya. Ku rasa dia sedang bertengkar dengan Keysha, teman  sebangku sekaligus sahabat dekatnya. Ku lihat, seminggu ini mereka tak duduk bersebelahan lagi. Bahkan aku tak melihat mereka saling bertegur sapa.
“Gua suka lu Ndi, gua harap kita bisa lebih dari teman”
“Maafin gua Key, hati gua udah ada yang ngisi,”
Glekkk,,, aku menelan ludah. Pengakuan Keysha tiba-tiba terlintas di pikiranku. Apa alasan mereka bertengkar adalah aku? Aku harus memastikannya.
ooo
“Itu urusan gua sama Rasty, lo gak usah ikut campur”
“Tapi gua harus tau Key. Apa gua penyebabnya?”
Hening.
“Key, gua perlu tau.”
“Iya, semua karena lo!” teriak Keysha yang mulai mengeluarkan air matanya.
“Bahkan Rasty gak pernah cerita kalau dia juga naksir sama lo, dia juga gak pernah berusaha buat dekat sama lo, tapi kenapa dia? Kenapa bukan gua?” lanjutnya dengan air mata yang mengalir di pipi. Terisak-isak.
“Maaf kalau gua udah bikin lo patah hati. Tapi perasaan gua ke Rasty udah lama jauh sebelum gua kenal sama lo” ucap gua tulus.
Keysha mengangkat wajahnya yang menunduk sejak tangisnya keluar. Kini dia mulai tenang.
“Sejak kapan?” tanyanya masih dengan isakan.
“Saat pertama kali gua menginjakkan kaki di sekolah ini. Saat pendaftaran siswa baru dulu. Tapi cinta gua tak berbalas Key. Gua ditolak” ucapku tegar. Mencoba tegar tepatnya.
“Maaf kalau ternyata gua jadi penghalang”
“Lo sama sekali gak salah. Tapi gua mohon, jangan marah sama Rasty lagi. Dia sama sekali gak salah. Karena gak ada alasan lagi buat lo marah ke dia. Dia nolak gua. Kami gak pacaran.” Ucapku lirih.
ooo
Rembulan malam ini terlihat indah. Sungguh memikat siapapun yang memandangnya. Walau hanya sedikit bintang yang menemani, tak menghilangkan pesonanya.
Aku tengah berada di sebuah kafe. Menunggu kedatangan Keysha. Setelah bicara dengannya dua minggu lalu, kali ini dia yang ingin bicara sesuatu. Entah apa aku pun penasaran. Ah, yang penting gadis ku telah kembali ceria lagi sekarang. Mereka telah berbaikan.
Bosan menunggu. Keysha tak kunjung datang. Ku keluarkan headset dan handphone ku. Memutar radio. Mengotak-atik siaran yang pas di telinga. Terdengar lagu mengalun pelan. Lagu slow. Cocoklah dengan suasana malam ini.
Hari ini dadaku bergetar, terguncang melinu dan mengerang
Ku yakin ku tak salah karena hatiku tak pernah, dan takkan berdusta
Cinta cinta cinta,, aku jatuh cinta
Esoknya, ku pikir rasa itu akan menghilang dengan seiring waktu
Tapi ternyata tak berubah aku makin tergiur pada dirimu
Cinta cinta cinta,, aku jatuh cinta
Dan seterusnya rasa ini slalu terjadi dan tak pernah berkurang
Hatiku hanya untuk dirimu
Aku bahagia hanya bila kamu bahagia (Hari ini, besok dan seterusnya, Acha Septriasa)
Wah, aku merasa ini curahan hatiku. Haha.
“Eh, cengar-cengir sendiri. Kesambet ya lo?” tegur Keysha yang baru datang. Tak sendiri. Dia bersama Rasty. Aku hanya terdiam.
“Loh, lo ngajak gua ke sini buat ketemu Andi? Kok lo gak bilang?” Tanya Rasty menuntut penjelasan.
Keysha menatap aku. Lalu menatap Rasty. Bergantian. Aku tak mengerti.
ooo
“Aku senang bisa menikmati matahari tenggelam hari ini bersama kamu” ucapku sambil melirik gadis disampingku. Yang dilirik hanya tersenyum.
“Aku mencintaimu Rasty”
“Aku harap aku masih bisa menatap pemandangan seperti ini bersama kamu”
“Hari ini, esok, dan seterusnya”
Gadis disampingku lagi-lagi tersenyum. Mengangguk kecil. Melemparkan pandangan ke atas. Melihat langit jingga. Aku merengkuhnya dalam pelukanku. Tersenyum bahagia.


End 

Senin, 25 Mei 2015

Cinta Bersambut, Persahabatan Kusut

By : Erna Safitri

“Ty, kayaknya gua naksir orang nih,” kata Keysha memulai sesi curhatannya. Itulah Keysha, selalu terbuka tentang apapun ke gua, termasuk masalah cowok. Beda dengan gua, tak pernah terbuka soal taksir menaksir cowok, karena terlalu pesimis dan tak percaya diri.

 “Lo pasti udah tau orangnya, itu si Andi,,” cerita Keysha dengan semangatnya. Nama itu seakan terdengar familiar, tak asing di telinga. “Tolong Key, jangan bilang Andi Perwana, temen sekelas kita,” pinta gua dalam hati. “Masa lo gak tau sih, Andi temen sekelas kita itu loh,” lanjutnya.
***
Kata-kata pengakuan Keysha masih terus berputar-putar di kepala gua, bagai rekaman film yang selalu di replay. Entah berapa kali sudah gua mencari cara untuk mengalihkan pikiran itu, tapi tak ada satu pun yang berhasil.  Dan entah berapa kali sudah gua menahan air mata yang selalu ingin meluncur keluar setiap melihat Keysha dan Andi tengah asik berdua.
Seperti pada keputusan awal, gua tetap pada pendirian, melupakan Andi, HARUS! Come on Rasty, lo harus move on! Let him go.
***
Hari ini gua tengah berada di toko buku. Mencari novel perdana yang akan dikeluarkan penulis favorit gua, Raditya Dika. Nah, ketemu! Di buku yang gua pegang itu tertulis ‘Marmut Merah Jambu’, judul dari novel yang gua ambil. Gua langsung menuju kasir untuk membayar dan segera pulang.
“Rasty!” panggil seseorang dari belakang. Suara itu tak terdengar asing. Seperti suara… “Lagi beli novel yah?” tanyanya saat gua berbalik ke arah suara itu sambil melihat buku yang gua pegang. “Andi?” teriak gua dalam hati. Bukannya menjawab pertanyaannya, gua malah bengong. Ketemu dia di luar sekolah? Apalagi sekarang?
“Hey, kok bengong?” tanyanya lagi. Pertanyaan itu langsung membuat gua tersadar. “Eh, iya nih. Lo sendiri?” Tanya gua balik sambil berbasa-basi. “Lagi nyari komik,” jawabnya sambil menunjukkan komik yang ada di tangannya. “Mau pulang ya? Bareng yuk, gua anter,” ajaknya. Gua hanya terpaku. “Yuk!” ajaknya lagi, kali ini sambil menarik tangan gua. “Tapi…” belum sempat gua menyelesaikan kata-kata tadi, sekarang gua sudah berada di atas motor milik Andi.
***
“Makasih ya,” ucap gua setelah sampai tepat di depan pagar rumah. Dia hanya membalas dengan senyum. Rasanya gua mau pingsan melihat senyumnya itu. “Gak mau mampir dulu?” Tanya gua seraya berbasa-basi lagi. “Lain kali deh, sekarang gua langsung pulang aja,” jawabnya. “Gua pulang yah,” lanjutnya seraya pamit.
Gua terpatung untuk kesekian kali nya, sambil melihat kepergian Andi. Lain kali? Akan ada lain kali? Ya tuhan, apa ini? Am I dream?
Tiba-tiba gua teringat sesuatu. Ini kesalahan! Gua seharusnya menjauh dan menghindari Andi, bukannya mendekat. Sorry Key, gua salah. Gua janji mulai besok gua bakal berusaha lebih keras melupakan Andi, demi lo.
***
Sebulan lebih sudah Keysha dekat dengan Andi. Dan selama itu pula gua terus menghindari Andi. Menghindar ketika dia akan menyapa. Menghindar ketika dia memberi senyumannya. Bahkan Menghindar ketika saling bertemu mata.
***
Pagi ini Keysha datang dengan muka yang ditekuk. Berbeda dengan biasanya. “Lo kenapa? Pagi-pagi udah galau aja,” tanya gua. Lama dia terdiam. “Andi cuma nganggep gua teman,” ucapnya memulai pembicaraan. “Maksudnya?” tanya gua bingung, masih belum paham dengan situasi yang terjadi.
***
Patah hati. Itulah yang terjadi dengan Keysha sekarang. Gua tahu pasti berat, karena gua juga pernah merasakannya. Tapi gua penasaran, gadis seperti apa yang menarik perhatian Andi, sehingga menolak cinta dari sahabat gua itu.
***
Drrrtt,, Drrrtt,, Iphone gua bergetar. Dengan malas gua mengambilnya untuk melihat siapa orang pertama yang ngesms gua sepagi ini di hari minggu. Gua terpatung melihat siapa yang mengirim pesan itu. Lebih terpatung lagi ketika membaca isi pesannya.
From : Andi
Pagi ^^  udah bangun?
Gua udah didepan rumah lo, bisa bicara bentar?
Di depan rumah? Ngapain? Panik, gua langsung lompat dari tempat tidur dan menghambur ke kamar mandi. Setelah gua rasa penampilan gua enggak malu-maluin, gua segera keluar dengan terburu-buru.
“Baru bangun ya?” tanyanya saat gua datang menghampirinya ke depan pagar rumah. Gua hanya tersenyum garing. Karena malu plus nervous. “Maaf yah udah ganggu hari libur lo” ucapnya tulus. “It’s okay” jawab gua. Tiba-tiba hening. Dia hanya diam. Gua bingung harus ngapain. “By the way, lo ada perlu apa ya pagi-pagi ke rumah gua?” akhirnya gua berani memulai pembicaraan. Sumpah gua penasaran setengah mati.
“Gua mau ngomong sesuatu sama lo” katanya sambil ragu-ragu. Gua hanya diam. Menunggu kata-kata yang akan dikeluarkan selanjutnya. “Will you be my girlfriend?” katanya lagi, kali ini dengan mantap dan pasti. Lagi-lagi gua terpaku. Apa gua masih mimpi? Kalau memang gua bermimpi, tolong jangan biarkan gua terbangun dari mimpi ini.
“Mungkin lo rasa ini terlalu tiba-tiba,” lanjutnya, membuat gua tersadar kalau gua sedang berada di alam nyata. Benar-benar nyata! “Tapi gua udah lama memendam perasaan ini,” sambungnya lagi. Udah lama? Apa cinta yang selama ini gua kira bertepuk sebelah tangan ternyata bersambut? Gua masih belum sadar betul tentang kondisi ini.
***
Hari-hari berikutnya gua lalui dengan suka cita. Gua masih belum menjawab pertanyaan Andi kemarin. Karena gua masih bingung. Gua hampir lupa dengan Keysha karena terlalu senang. Gua lupa kalau sahabat gua itu masih dalam kondisi patah hati. Apa yang harus gua lakukan sekarang? Help me god.
***
“Rasty, udah seminggu semenjak gua ngungkapin perasaan gua sama lo,” ucap Andi memulai pembicaraan. Dia sengaja menarik gua ke belakang sekolah agar tak ada yang melihat. Gua bingung. Rasanya,,, gua ingin langsung menghambur kepelukannya, mengungkapkan semua yang ada di hati. Tapi gua tahan.
“Apa sekarang gua udah bisa tahu jawaban lo?” tanyanya sambil menatap mata gua. Dalam. Gua masih diam. Berusaha mengalihkan pandangan dari matanya. Lalu mata gua menangkap seseorang yang entah sejak kapan berdiri di belakang kami.
“Keysha?” jerit gua kaget. Gua tambah bingung harus bersikap bagaimana. Dia langsung pergi sebelum gua sempat menjelaskan apa-apa.
***
Sejak kejadian itu berlalu, gua masih belum berbicara sepatah-katapun pada Keysha. Dia selalu pergi setiap gua akan menghampiri. Sampai duduk di samping gua pun dia enggak mau lagi. Dia memilih pindah. Persahabatan gua benar-benar berantakan hanya karena seorang cowok. Sekarang, gua lebih terpuruk dari sebelumnya. Selain kini gua udah dijauhi Keysha, gua juga jauh dari Andi. Gua terpaksa menolak cintanya. Gua merasa kehilangan semuanya. Sekarang gua menjalani apaupun dengan hampa. Benar-benar HAMPA!

Rabu, 20 Mei 2015

Cinta Sepihak

By : Erna Safitri
CINTA! ♥   Gua selalu sial dalam hal ini, gua rasa gua enggak pernah tuh nemuin cowok yang sesuai sama kriteria gua. Yang mendekati kriteria juga kagak, semua cowok yang coba deketin gua, pada ancuurrrr. Karena itu gua masih jomblo sampe sekarang. Mungkin udah nasib percintaan gua kali yah.
Hari ini adalah tahun kedua gua memakai seragam putih abu-abu, dan status jomblo gua sekarang udah sampe ke tahap ‘Jones’, alias Jomblo Ngenesss... hiks,, hiks,,
“Duh, nih angkot lama banget sih jalannya, mana gua enggak tau lagi kelas baru gua dimana,” omel gua dalam perjalanan pergi ke SMA Bina Karya, sekolah gua, salah satu sekolah yang ada di Jakarta. Pagi ini gua bangun agak kesiangan, jadi gua jamin hari pertama gua dikelas XI akan membuat kesan yang buruk untuk guru dan teman baru gua.
Drrrtt,, Drrrtt,, Iphone merk Apple gua bergetar tanda sms masuk. Segera gua lihat siapa orang pertama yang ngesms gua pagi ini.
Dari : Keysha
Ty, kita sekelas lagii ^^ XI Ipa 2, lo dimana? Kok belum nongol?
Alhamdulillah, gua sekelas lagi sama Keysha, sahabat gua di kelas X dulu. Segera gua ketik pesan untuk membalas sms-nya.
            From : Keysha
            Serius? Bagus deh kalo gitu. Gua masih di jalan, gua duduk samping lo,
Lalu gua tekan tombol ‘send’ pada layar. Setidaknya gua enggak perlu lagi susah-susah nyari tempat duduk.
***
Gua berlari menyusuri  koridor sekolah, mencari posisi kelas gua berada. Dan ketemu!  ‘XI Ipa 2’ tertera didepan pintu. Enggak banyak pikir gua langsung masuk ke kelas itu. Beruntung belum ada guru yang masuk. Keysha melambaikan tangan. Langsung gua samperin. Keadaan kelas sunyi, semuanya dalam keadaan tenang walaupun guru belum ada, beda banget sama kondisi kelas gua yang dulu, ada gak ada guru, tetap gaduh.
Saat gua masuk, tatapan gua tertuju pada satu manusia, yang terlalu asik dengan buku yang ada di mejanya, hanya melirik siapa yang baru datang, dan kembali pada aktifitasnya. TAMPAN ABISSS! Dengan gayanya yang cuek tapi malah terlihat cool, rambut yang dipangkas rapi, sangat cocok dengan wajahnya yang cute itu. Pria yang selalu gua liat main basket pas jam istirahat saat gua masih di kelas X. Pria yang setahu gua selalu maju ke depan saat pembacaan Juara kelas di lapangan upacara. Sekelas ama dia? ya tuhan, ini KEAJAIBAN.
“Eh, lo kok telat?” Tanya Keysha membuyarkan lamunan gua. “Tadi bangun kesiangan,” jawab gua singkat. Keysha hanya menganggukan kepalanya. Gua memperhatikan sekitar, sebagian besar adalah tampang baru.
Seorang guru perempuan yang terlihat sangat anggun memasuki kelas kami. Memperkenalkan diri sebagai wali kelas sekaligus guru Matematika, namanya Bu Sri. Setelah memperkenalkan diri, gantian nama kami di panggil satu per satu. “Andi Perwana” panggil Bu Sri. Lalu pria yang gua perhatikan itu mengangkat tangannya. “Owh, namanya Andi.” Ucap gua dalam hati seraya menganggukkan kepala.
***
Hampir dua bulan gua ada di kelas baru ini. Dan gua udah kenal semua orang yang ada di kelas ini. Namun, gua sama sekali belum pernah ngomong langsung sama Andi. Gua hanya bisa memperhatikan dia dari jauh, mengagumi semua yang ada dalam dirinya. Mengagumi saat dia sering maju ke depan untuk meyelesaikan soal yang di berikan guru. Mengagumi dia saat mandi keringat karena main basket saat istirahat.
***
“Ty, kayaknya gua naksir orang nih,” kata Keysha memulai sesi curhatannya. Itulah Keysha, selalu terbuka tentang apapun ke gua, termasuk masalah cowok. Beda dengan gua, gak pernah terbuka soal taksir menaksir cowok, karena terlalu pesimis, gak percaya diri.
“Siapa? Siapa? Anak sekolah kita atau sekolah lain?” Tanya gua antusias. Karena biasanya cowok yang jadi pacarnya Keysha pasti Keren. Maklumlah, wajah Keysha yang baby face itu pasti membuat kaum adam tertarik padanya.
“Lo pasti udah tau orangnya, itu si Andi,,” cerita Keysha dengan semangatnya. Nama itu seakan terdengar familiar, tidak asing di telinga. “Andi mana nih?” Tanya gua dengan nada tak bersemangat. “Tolong Key, jangan bilang Andi temen sekelas kita,” pinta gua dalam hati.
“Masa lo enggak tau sih, Andi temen sekelas kita itu loh,” kata Keysha. “Ternyata gua tinggal satu perumahan loh sama dia, cuma beda kompleks doank, kesempatan gua pedekate terbuka lebar ty,,” ceritanya panjang lebar.
“Oh ya? Bagus deh kalau gitu,,” ucap gua dengan senyum, senyum yang dipaksakan. Entah kenapa hati gua rasanya teriris-iris mendengar pengakuan dari sahabat gua itu. Gua sadar, kalau dilihat dari fisik gua enggak ada apa-apanya dibanding Keysha. Gua enggak mungkin kan bersaing sama sahabat sendiri hanya karena cowok. Dan gua juga sebatas mengagumi Andi, bukan ‘Jatuh Cinta’.
***
“Do’ain gua ya ty, hari ini gua bakal pulang bareng sama Andi,” ucap Keysha dengan wajah yang ceria, pipinya sampai terlihat merah, mungkin karena gugup. “Semoga pedekate lo  sukses yah,” kata gua memberi semangat tersenyum, senyum hambar. Seminggu ini Keysha memang terlihat mendekati Andi.
***
Mereka berdua lewat dihadapan gua, air mata yang sudah lama tertahan di kelopak mata ini langsung tumpah. Hati gua yang luka, seakan disirami dengan air cuka. Perih! Gua enggak paham, mungkin rasa kagum gua selama ini telah berubah menjadi SUKA, atau malah CINTA? Tapi terlambat, gua harus merelakan orang itu demi Keysha, sahabat gua.

Seperti yang sering gua dengar, cinta itu tak harus memiliki. Mungkin terdengar aneh dan bodoh jika mengalah dan menyerah terhadap cinta, bahkan saat belum dimulai sama sekali. Tapi itu adalah pilihan gua. Mumpung perasaan gua masih dangkal, mungkin cinta sepihak gua bisa secepatnya terlupakan. Gua hanya perlu mencari pria lain yang bisa menarik perhatian gua, seperti Andi. Gua yakin, sebentar lagi pasti perasaan gua akan cepat berlalu. Karena sekarang, mengungkapkan perasaan pun tak ada gunanya. Mungkin diam ini lebih berharga, daripada bicara namun membuat orang lain merasa tak bahagia.

Selasa, 19 Mei 2015

KAU

Karya : Erna Safitri
Kau tumbuhkan benih cinta
Lewat tutur katamu
Mengusik jiwa dalam ketenangan

Kau hadirkan getaran rindu
Lewat senyum indahmu
Menggugah batin dalam ketenangan

Kau juga yang menyayat hati
Hingga perih menghampiri tak mau pergi

Kau juga yang menghempaskan mimpi indah
Menenggelamkan cinta dan menumbukan luka yang paling dalam

Senin, 18 Mei 2015

Tanpa Aku

Short by : Erna Safitri



Tak ada lagi kata kita
Hanya kalian, tanpa aku
Tak ada lagi kata kami
Hanya mereka, tanpa tanpa aku

Dulu berempat,
Sekarang bertiga, tanpa aku,

Hanya bertiga,
Hanya berdua,
Hanya sendiri,
Tanpa aku

Kadang merindu tawa bersama,
Kadang merindu canda bersama,


Cukup aku, tanpa kamu

Selasa, 28 April 2015

Dilema

Oleh : Erna Safitri

Sikap yang selalu berbeda setiap berjumpa

Sikap yang tak dapat ku artikan

Membuat perasaanku jadi kacau,

Kadang menunjukkan kepedulian

Kadang menunjukkan keangkuhan,

Selalu berubah sesuai mood,

Terkadang membuatku berdebar

Terkadang membuatku kecewa,

Terkadang membuatku bahagia

Terkadang membuatku keluar air mata,

Membuat semuanya jadi mengambang,

Membuat diriku jadi dilema,

Kamis, 23 April 2015

Berteman atau Bercinta?

Short by : Erna Safitri
‘Kita berteman’
Sejak kapan kalimat itu terasa menyakitkan

Sejak kapan kalimat itu terasa menyedihkan
Padahal dulu terdengar sangat menyenangkan

Berteman denganmu? Membahagiakan
Bersahabat denganmu? Menggembirakan
Namun itu dulu bukan?

Apa yang terjadi denganku?
Apa yang terjadi dengan hatiku?
Kenapa berdebar jika bertemu denganmu?

Kupikir aku sudah mulai gila
Mulai gila atau jatuh cinta?


Kurasa kedua-duanya

Rabu, 22 April 2015

...



Erna

Erna Safitri


Terlalu Cepat Mencintaimu


Baru sekejap aku mengenalmu
Tak cukup untuk bercerita
Tak cukup saling mengetahui
Namun terlanjur aku menyayangimu
Meski ku tak mengenalmu
Dan aku tak tahu mengapa
Hingga kini aku terjebak dalam kesalahanku
Aku mencintaimu
Aku mencintaimu!!!
Aku tak mampu
Untuk melepas dirimu
Dan melupakanmu

Minggu, 19 April 2015

Malam

By : Erna Safitri 


Malam itu aneh,


Langit yang terbentang luas menjadi gelap,


Biru yang indah menjadi hitam menyeramkan,


Namun masih ada cahaya kecil yang meneranginya,


Selalu menemani langit yang kosong itu,


Memudarkan kata ‘seram’ dengan cahayanya,


Membuat setiap orang tersenyum kagum


Melihat keindahan yang dibuatnya,



                                  Malam itu aneh,


                                 Kebisingan yang membuat sakit telinga itu


                                Perlahan meredup ditelannya,


                                Hening seketika,


                                Suara kecil pun jadi terdengar jelas,


                                Kriiikk... Kriiiikk...


                                Jangkrik mulai bernyanyi,


                                Terdengar seperti alunan musik yang indah,

                                Membuat mata terpejam karenanya.



Erna Safitri


Jumat, 17 April 2015

Tulisan untuk Mereka

Short Puisi by : Erna Safitri



Aku tak pandai dalam berkata-kata,
Walau sekedar melepaskan perasaan,
Setiap ingin mengucapkan kalimat itu
Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul,
Lidahku terasa kaku,
Bibirku pun ikut membeku,

Mungkin lewat tulisan,
Bisa aku ungkapkan,
Satu kalimat yang ingin aku curahkan,
Satu kalimat yang ingin kuucapkan,
Satu kalimat yang mungkin tak merubah apapun,

Aku mencintaimu...
Mencintai ibu, Mencintai ayah
‘Aku mencintai kalian’

Kuharap aku bisa mengatakannya langsung,
Betapa aku mencintai kalian,
Betapa aku menyayangi kalian,

Terima kasih telah memberikan aku hidup,
Terima kasih telah memberikan aku cinta,
“anak yang belum sanggup memberikan sesuatu”

Kamis, 26 Maret 2015

You said love me? You are a Liar!!!




Secepat itu kau datang,
Menghilangkan semua perasaan gundah yang kurasakan,
Secepat itu kau datang,
Menghilangkan semua kesedihan yang kurasakan,

Namun, secepat itu juga kau pergi

Meninggalkan aku dalam diam,
Meninggalkan aku dalam bisu,

Dengan mudahnya melupakan yang kau rasakan,

Dengan mudahnya melupakan yang kau janjikan,

Kembali membuat sakit luka yang hampir sembuh,

Mendatangkan kesedihan yang jauh lebih parah,
Jauh lebih sakit...

Kau bilang kau mencintai ku,

Kau bilang ingin mengobati luka ini,

Kau PEMBOHONG!!

Rabu, 25 Maret 2015

Cerita ku

Aku menyusuri kehidupan ku yang tidak tahu akan terjadi apa ke depannya. Setelah selesai menyusuri masa SD, SMP, dan SMA ku, aku merasa belum menemukan apa-apa di sana, termasuk CINTA.

Sekarang aku sedang menyusuri kehidupan kampus ku, yang masih remang-remang akan mengarah kemana. Setelah menetapkan Pendidikan Matematika sebagai Jurusan yang ku jalani, aku sekarang sedang mencari kegiatan kampus yang bisa mengisi kekosongan. Aku terlalu bosan jika harus berdiam diri di rumah.



Pertama aku mengikuti BEM fakultas, mengikuti semua kegiatannya, menemukan kecocokan, sampai aku mengikuti komunitas dance . Namun, ternyata tidak sesuai dengan hati nurani ku.




Sekarang aku sedang menjalani kehidupan kampus ku di Teropong. Salah satu UKM pers mahasiswa di kampus ku, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Mengikuti setiap tingkat, dari magang, anggota muda, sampai langsung diangkat menjadi Redaktur Pelaksana. 



Aku masih menjalani, masih menyelusuri, belum tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Aku nggak tahu bakal bertahan sampai akhir di Teropong. Karena pikiran terlalu terbebani selalu mengerubungi kepala ku. Namun aku sudah terlanjur merasa nyaman berada di sini.

Ke depannya masih GELAP
aku benar-benar tidak tahu hati ku akan berubah secepat apa. Tapi aku berharap semuanya tetap menjadi yang terbaik untuk kehidupan ku ke depannya.

Senin, 23 Maret 2015

Ada dan Tak Ada

By : Erna Safitri



Hari ini aku hampa,
Merasa ada tapi tak ada,

Aku di sini,
Bersama kalian,

Tapi pikiran ku jauh di sana,
Di tempat ayah ku tercinta berada,

Bagaimana kabarmu di sana?
Ku dengar kau kurang sehat,

Aku di sini,
Tak bisa merawat mu,
Tak bisa menyentuh mu,

Hanya do'a yang bisa ku kirim,
Semoga kau membaik,