By : Erna Safitri
“Ty, kayaknya gua naksir orang nih,” kata Keysha memulai sesi curhatannya. Itulah Keysha, selalu terbuka tentang apapun ke gua, termasuk masalah cowok. Beda dengan gua, tak pernah terbuka soal taksir menaksir cowok, karena terlalu pesimis dan tak percaya diri.
“Lo
pasti udah tau orangnya, itu si Andi,,” cerita Keysha dengan semangatnya. Nama
itu seakan terdengar familiar, tak asing di telinga. “Tolong Key, jangan bilang
Andi Perwana, temen sekelas kita,” pinta gua dalam hati. “Masa lo gak tau sih,
Andi temen sekelas kita itu loh,” lanjutnya.
***
Kata-kata pengakuan Keysha masih terus
berputar-putar di kepala gua, bagai rekaman film yang selalu di replay. Entah berapa kali sudah gua
mencari cara untuk mengalihkan pikiran itu, tapi tak ada satu pun yang
berhasil. Dan entah berapa kali sudah
gua menahan air mata yang selalu ingin meluncur keluar setiap melihat Keysha dan
Andi tengah asik berdua.
Seperti pada keputusan awal, gua tetap
pada pendirian, melupakan Andi, HARUS! Come
on Rasty, lo harus move on! Let him go.
***
Hari ini gua tengah berada di toko
buku. Mencari novel perdana yang akan dikeluarkan penulis favorit gua, Raditya
Dika. Nah, ketemu! Di buku yang gua pegang itu tertulis ‘Marmut Merah Jambu’,
judul dari novel yang gua ambil. Gua langsung menuju kasir untuk membayar dan
segera pulang.
“Rasty!” panggil seseorang dari
belakang. Suara itu tak terdengar asing. Seperti suara… “Lagi beli novel yah?”
tanyanya saat gua berbalik ke arah suara itu sambil melihat buku yang gua
pegang. “Andi?” teriak gua dalam hati. Bukannya menjawab pertanyaannya, gua
malah bengong. Ketemu dia di luar sekolah? Apalagi sekarang?
“Hey, kok bengong?” tanyanya lagi. Pertanyaan
itu langsung membuat gua tersadar. “Eh, iya nih. Lo sendiri?” Tanya gua balik
sambil berbasa-basi. “Lagi nyari komik,” jawabnya sambil menunjukkan komik yang
ada di tangannya. “Mau pulang ya? Bareng yuk, gua anter,” ajaknya. Gua hanya
terpaku. “Yuk!” ajaknya lagi, kali ini sambil menarik tangan gua. “Tapi…” belum
sempat gua menyelesaikan kata-kata tadi, sekarang gua sudah berada di atas
motor milik Andi.
***
“Makasih ya,” ucap gua setelah sampai
tepat di depan pagar rumah. Dia hanya membalas dengan senyum. Rasanya gua mau
pingsan melihat senyumnya itu. “Gak mau mampir dulu?” Tanya gua seraya
berbasa-basi lagi. “Lain kali deh, sekarang gua langsung pulang aja,” jawabnya.
“Gua pulang yah,” lanjutnya seraya pamit.
Gua terpatung untuk kesekian kali nya,
sambil melihat kepergian Andi. Lain kali? Akan ada lain kali? Ya tuhan, apa
ini? Am I dream?
Tiba-tiba gua teringat sesuatu. Ini
kesalahan! Gua seharusnya menjauh dan menghindari Andi, bukannya mendekat. Sorry Key, gua salah. Gua janji mulai
besok gua bakal berusaha lebih keras melupakan Andi, demi lo.
***
Sebulan lebih sudah Keysha dekat dengan
Andi. Dan selama itu pula gua terus menghindari Andi. Menghindar ketika dia
akan menyapa. Menghindar ketika dia memberi senyumannya. Bahkan Menghindar
ketika saling bertemu mata.
***
Pagi ini Keysha datang dengan muka yang
ditekuk. Berbeda dengan biasanya. “Lo kenapa? Pagi-pagi udah galau aja,” tanya
gua. Lama dia terdiam. “Andi cuma nganggep gua teman,” ucapnya memulai
pembicaraan. “Maksudnya?” tanya gua bingung, masih belum paham dengan situasi
yang terjadi.
***
Patah hati. Itulah yang terjadi dengan
Keysha sekarang. Gua tahu pasti berat, karena gua juga pernah merasakannya.
Tapi gua penasaran, gadis seperti apa yang menarik perhatian Andi, sehingga
menolak cinta dari sahabat gua itu.
***
Drrrtt,, Drrrtt,, Iphone gua bergetar. Dengan malas gua mengambilnya untuk melihat
siapa orang pertama yang ngesms gua sepagi ini di hari minggu. Gua terpatung
melihat siapa yang mengirim pesan itu. Lebih terpatung lagi ketika membaca isi
pesannya.
From
: Andi
Pagi
^^ udah bangun?
Gua
udah didepan rumah lo, bisa bicara bentar?
Di depan rumah? Ngapain? Panik, gua langsung lompat dari
tempat tidur dan menghambur ke kamar mandi. Setelah gua rasa penampilan gua enggak
malu-maluin, gua segera keluar dengan terburu-buru.
“Baru bangun ya?” tanyanya saat gua
datang menghampirinya ke depan pagar rumah. Gua hanya tersenyum garing. Karena
malu plus nervous. “Maaf yah udah
ganggu hari libur lo” ucapnya tulus. “It’s
okay” jawab gua. Tiba-tiba hening. Dia hanya diam. Gua bingung harus
ngapain. “By the way, lo ada perlu
apa ya pagi-pagi ke rumah gua?” akhirnya gua berani memulai pembicaraan. Sumpah
gua penasaran setengah mati.
“Gua mau ngomong sesuatu sama lo”
katanya sambil ragu-ragu. Gua hanya diam. Menunggu kata-kata yang akan
dikeluarkan selanjutnya. “Will you be my
girlfriend?” katanya lagi, kali ini dengan mantap dan pasti. Lagi-lagi gua
terpaku. Apa gua masih mimpi? Kalau memang gua bermimpi, tolong jangan biarkan
gua terbangun dari mimpi ini.
“Mungkin lo rasa ini terlalu
tiba-tiba,” lanjutnya, membuat gua tersadar kalau gua sedang berada di alam
nyata. Benar-benar nyata! “Tapi gua udah lama memendam perasaan ini,”
sambungnya lagi. Udah lama? Apa cinta yang selama ini gua kira bertepuk sebelah
tangan ternyata bersambut? Gua masih belum sadar betul tentang kondisi ini.
***
Hari-hari berikutnya gua lalui dengan
suka cita. Gua masih belum menjawab pertanyaan Andi kemarin. Karena gua masih
bingung. Gua hampir lupa dengan Keysha karena terlalu senang. Gua lupa kalau
sahabat gua itu masih dalam kondisi patah hati. Apa yang harus gua lakukan
sekarang? Help me god.
***
“Rasty, udah seminggu semenjak gua
ngungkapin perasaan gua sama lo,” ucap Andi memulai pembicaraan. Dia sengaja
menarik gua ke belakang sekolah agar tak ada yang melihat. Gua bingung. Rasanya,,,
gua ingin langsung menghambur kepelukannya, mengungkapkan semua yang ada di
hati. Tapi gua tahan.
“Apa sekarang gua udah bisa tahu
jawaban lo?” tanyanya sambil menatap mata gua. Dalam. Gua masih diam. Berusaha
mengalihkan pandangan dari matanya. Lalu mata gua menangkap seseorang yang
entah sejak kapan berdiri di belakang kami.
“Keysha?” jerit gua kaget. Gua tambah
bingung harus bersikap bagaimana. Dia langsung pergi sebelum gua sempat
menjelaskan apa-apa.
***
Sejak kejadian itu berlalu, gua masih
belum berbicara sepatah-katapun pada Keysha. Dia selalu pergi setiap gua akan
menghampiri. Sampai duduk di samping gua pun dia enggak mau lagi. Dia memilih
pindah. Persahabatan gua benar-benar berantakan hanya karena seorang cowok.
Sekarang, gua lebih terpuruk dari sebelumnya. Selain kini gua udah dijauhi
Keysha, gua juga jauh dari Andi. Gua terpaksa menolak cintanya. Gua merasa
kehilangan semuanya. Sekarang gua menjalani apaupun dengan hampa. Benar-benar
HAMPA!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar