By:
Erna Safitri
“Maaf ndi, gua gak bisa jadi pacar lo”
ucap Rasty, gadis yang menarik perhatianku sejak awal aku menginjak masa putih
abu-abu.
Dia berbicara
sambil menunduk disertai suara yang sangat berat. Aku merasa, dia tak rela.
Tapi mungkin hanya perasaanku saja. Aku tak rela lebih tepatnya.
“Gua ngerti, gua harap kita tetap bisa jadi
teman,”
“Gak! Jadi teman pun gua rasa gak bisa.
Maaf,” tegasnya seraya pergi meninggalkanku sendiri dalam diam.
ooo
Kata-kata Rasty
terus berputar dalam kepalaku. Dadaku terasa sesak. Kesulitan bernapas.
Kata-katanya kemarin, walaupun singkat, cukup meninggalkan luka yang dalam.
Melupakannya tak
semudah saat aku mulai mencintainya. Ditambah lagi aku harus bertemu dengannya
setiap hari karena berada di kelas yang sama. Tak sedetik pun ku lewati tanpa
memperhatikannya.
Namun ada yang
berbeda dengan gadis yang baru menolakku dalam seminggu ini. Wajah cerianya
yang membuatku selalu damai ‘hilang’. Dia terlihat begitu murung. Kantung
matanya terlihat lebih hitam.
Meski tak ada
hubungan apapun, hatiku tetap terasa perih melihatnya seperti itu. Perih saat
melihat gadis yang masih aku cintai terlihat menderita. Entah apa yang menjadi
penyebabnya. Ku rasa dia sedang bertengkar dengan Keysha, teman sebangku sekaligus sahabat dekatnya. Ku
lihat, seminggu ini mereka tak duduk bersebelahan lagi. Bahkan aku tak melihat
mereka saling bertegur sapa.
“Gua suka lu Ndi, gua harap kita bisa lebih
dari teman”
“Maafin gua Key, hati gua udah ada yang ngisi,”
Glekkk,,, aku
menelan ludah. Pengakuan Keysha tiba-tiba terlintas di pikiranku. Apa alasan
mereka bertengkar adalah aku? Aku harus memastikannya.
ooo
“Itu urusan gua
sama Rasty, lo gak usah ikut campur”
“Tapi gua harus
tau Key. Apa gua penyebabnya?”
Hening.
“Key, gua perlu
tau.”
“Iya, semua
karena lo!” teriak Keysha yang mulai mengeluarkan air matanya.
“Bahkan Rasty
gak pernah cerita kalau dia juga naksir sama lo, dia juga gak pernah berusaha
buat dekat sama lo, tapi kenapa dia? Kenapa bukan gua?” lanjutnya dengan air
mata yang mengalir di pipi. Terisak-isak.
“Maaf kalau gua
udah bikin lo patah hati. Tapi perasaan gua ke Rasty udah lama jauh sebelum gua
kenal sama lo” ucap gua tulus.
Keysha
mengangkat wajahnya yang menunduk sejak tangisnya keluar. Kini dia mulai
tenang.
“Sejak kapan?”
tanyanya masih dengan isakan.
“Saat pertama
kali gua menginjakkan kaki di sekolah ini. Saat pendaftaran siswa baru dulu.
Tapi cinta gua tak berbalas Key. Gua ditolak” ucapku tegar. Mencoba tegar
tepatnya.
“Maaf kalau
ternyata gua jadi penghalang”
“Lo sama sekali
gak salah. Tapi gua mohon, jangan marah sama Rasty lagi. Dia sama sekali gak
salah. Karena gak ada alasan lagi buat lo marah ke dia. Dia nolak gua. Kami gak
pacaran.” Ucapku lirih.
ooo
Rembulan malam
ini terlihat indah. Sungguh memikat siapapun yang memandangnya. Walau hanya
sedikit bintang yang menemani, tak menghilangkan pesonanya.
Aku tengah
berada di sebuah kafe. Menunggu kedatangan Keysha. Setelah bicara dengannya dua
minggu lalu, kali ini dia yang ingin bicara sesuatu. Entah apa aku pun
penasaran. Ah, yang penting gadis ku telah kembali ceria lagi sekarang. Mereka
telah berbaikan.
Bosan menunggu.
Keysha tak kunjung datang. Ku keluarkan headset dan handphone ku. Memutar radio.
Mengotak-atik siaran yang pas di telinga. Terdengar lagu mengalun pelan. Lagu
slow. Cocoklah dengan suasana malam ini.
Hari ini dadaku bergetar, terguncang melinu
dan mengerang
Ku yakin ku tak salah karena hatiku tak
pernah, dan takkan berdusta
Cinta cinta cinta,, aku jatuh cinta
Esoknya, ku pikir rasa itu akan menghilang
dengan seiring waktu
Tapi ternyata tak berubah aku makin tergiur
pada dirimu
Cinta cinta cinta,, aku jatuh cinta
Dan seterusnya rasa ini slalu terjadi dan
tak pernah berkurang
Hatiku hanya untuk dirimu
Aku bahagia hanya bila kamu bahagia (Hari ini, besok dan seterusnya, Acha
Septriasa)
Wah, aku merasa
ini curahan hatiku. Haha.
“Eh,
cengar-cengir sendiri. Kesambet ya lo?” tegur Keysha yang baru datang. Tak
sendiri. Dia bersama Rasty. Aku hanya terdiam.
“Loh, lo ngajak
gua ke sini buat ketemu Andi? Kok lo gak bilang?” Tanya Rasty menuntut
penjelasan.
Keysha menatap
aku. Lalu menatap Rasty. Bergantian. Aku tak mengerti.
ooo
“Aku senang bisa
menikmati matahari tenggelam hari ini bersama kamu” ucapku sambil melirik gadis
disampingku. Yang dilirik hanya tersenyum.
“Aku mencintaimu
Rasty”
“Aku harap aku
masih bisa menatap pemandangan seperti ini bersama kamu”
“Hari ini, esok,
dan seterusnya”
Gadis
disampingku lagi-lagi tersenyum. Mengangguk kecil. Melemparkan pandangan ke
atas. Melihat langit jingga. Aku merengkuhnya dalam pelukanku. Tersenyum
bahagia.
End



