Senin, 25 Mei 2015

Cinta Bersambut, Persahabatan Kusut

By : Erna Safitri

“Ty, kayaknya gua naksir orang nih,” kata Keysha memulai sesi curhatannya. Itulah Keysha, selalu terbuka tentang apapun ke gua, termasuk masalah cowok. Beda dengan gua, tak pernah terbuka soal taksir menaksir cowok, karena terlalu pesimis dan tak percaya diri.

 “Lo pasti udah tau orangnya, itu si Andi,,” cerita Keysha dengan semangatnya. Nama itu seakan terdengar familiar, tak asing di telinga. “Tolong Key, jangan bilang Andi Perwana, temen sekelas kita,” pinta gua dalam hati. “Masa lo gak tau sih, Andi temen sekelas kita itu loh,” lanjutnya.
***
Kata-kata pengakuan Keysha masih terus berputar-putar di kepala gua, bagai rekaman film yang selalu di replay. Entah berapa kali sudah gua mencari cara untuk mengalihkan pikiran itu, tapi tak ada satu pun yang berhasil.  Dan entah berapa kali sudah gua menahan air mata yang selalu ingin meluncur keluar setiap melihat Keysha dan Andi tengah asik berdua.
Seperti pada keputusan awal, gua tetap pada pendirian, melupakan Andi, HARUS! Come on Rasty, lo harus move on! Let him go.
***
Hari ini gua tengah berada di toko buku. Mencari novel perdana yang akan dikeluarkan penulis favorit gua, Raditya Dika. Nah, ketemu! Di buku yang gua pegang itu tertulis ‘Marmut Merah Jambu’, judul dari novel yang gua ambil. Gua langsung menuju kasir untuk membayar dan segera pulang.
“Rasty!” panggil seseorang dari belakang. Suara itu tak terdengar asing. Seperti suara… “Lagi beli novel yah?” tanyanya saat gua berbalik ke arah suara itu sambil melihat buku yang gua pegang. “Andi?” teriak gua dalam hati. Bukannya menjawab pertanyaannya, gua malah bengong. Ketemu dia di luar sekolah? Apalagi sekarang?
“Hey, kok bengong?” tanyanya lagi. Pertanyaan itu langsung membuat gua tersadar. “Eh, iya nih. Lo sendiri?” Tanya gua balik sambil berbasa-basi. “Lagi nyari komik,” jawabnya sambil menunjukkan komik yang ada di tangannya. “Mau pulang ya? Bareng yuk, gua anter,” ajaknya. Gua hanya terpaku. “Yuk!” ajaknya lagi, kali ini sambil menarik tangan gua. “Tapi…” belum sempat gua menyelesaikan kata-kata tadi, sekarang gua sudah berada di atas motor milik Andi.
***
“Makasih ya,” ucap gua setelah sampai tepat di depan pagar rumah. Dia hanya membalas dengan senyum. Rasanya gua mau pingsan melihat senyumnya itu. “Gak mau mampir dulu?” Tanya gua seraya berbasa-basi lagi. “Lain kali deh, sekarang gua langsung pulang aja,” jawabnya. “Gua pulang yah,” lanjutnya seraya pamit.
Gua terpatung untuk kesekian kali nya, sambil melihat kepergian Andi. Lain kali? Akan ada lain kali? Ya tuhan, apa ini? Am I dream?
Tiba-tiba gua teringat sesuatu. Ini kesalahan! Gua seharusnya menjauh dan menghindari Andi, bukannya mendekat. Sorry Key, gua salah. Gua janji mulai besok gua bakal berusaha lebih keras melupakan Andi, demi lo.
***
Sebulan lebih sudah Keysha dekat dengan Andi. Dan selama itu pula gua terus menghindari Andi. Menghindar ketika dia akan menyapa. Menghindar ketika dia memberi senyumannya. Bahkan Menghindar ketika saling bertemu mata.
***
Pagi ini Keysha datang dengan muka yang ditekuk. Berbeda dengan biasanya. “Lo kenapa? Pagi-pagi udah galau aja,” tanya gua. Lama dia terdiam. “Andi cuma nganggep gua teman,” ucapnya memulai pembicaraan. “Maksudnya?” tanya gua bingung, masih belum paham dengan situasi yang terjadi.
***
Patah hati. Itulah yang terjadi dengan Keysha sekarang. Gua tahu pasti berat, karena gua juga pernah merasakannya. Tapi gua penasaran, gadis seperti apa yang menarik perhatian Andi, sehingga menolak cinta dari sahabat gua itu.
***
Drrrtt,, Drrrtt,, Iphone gua bergetar. Dengan malas gua mengambilnya untuk melihat siapa orang pertama yang ngesms gua sepagi ini di hari minggu. Gua terpatung melihat siapa yang mengirim pesan itu. Lebih terpatung lagi ketika membaca isi pesannya.
From : Andi
Pagi ^^  udah bangun?
Gua udah didepan rumah lo, bisa bicara bentar?
Di depan rumah? Ngapain? Panik, gua langsung lompat dari tempat tidur dan menghambur ke kamar mandi. Setelah gua rasa penampilan gua enggak malu-maluin, gua segera keluar dengan terburu-buru.
“Baru bangun ya?” tanyanya saat gua datang menghampirinya ke depan pagar rumah. Gua hanya tersenyum garing. Karena malu plus nervous. “Maaf yah udah ganggu hari libur lo” ucapnya tulus. “It’s okay” jawab gua. Tiba-tiba hening. Dia hanya diam. Gua bingung harus ngapain. “By the way, lo ada perlu apa ya pagi-pagi ke rumah gua?” akhirnya gua berani memulai pembicaraan. Sumpah gua penasaran setengah mati.
“Gua mau ngomong sesuatu sama lo” katanya sambil ragu-ragu. Gua hanya diam. Menunggu kata-kata yang akan dikeluarkan selanjutnya. “Will you be my girlfriend?” katanya lagi, kali ini dengan mantap dan pasti. Lagi-lagi gua terpaku. Apa gua masih mimpi? Kalau memang gua bermimpi, tolong jangan biarkan gua terbangun dari mimpi ini.
“Mungkin lo rasa ini terlalu tiba-tiba,” lanjutnya, membuat gua tersadar kalau gua sedang berada di alam nyata. Benar-benar nyata! “Tapi gua udah lama memendam perasaan ini,” sambungnya lagi. Udah lama? Apa cinta yang selama ini gua kira bertepuk sebelah tangan ternyata bersambut? Gua masih belum sadar betul tentang kondisi ini.
***
Hari-hari berikutnya gua lalui dengan suka cita. Gua masih belum menjawab pertanyaan Andi kemarin. Karena gua masih bingung. Gua hampir lupa dengan Keysha karena terlalu senang. Gua lupa kalau sahabat gua itu masih dalam kondisi patah hati. Apa yang harus gua lakukan sekarang? Help me god.
***
“Rasty, udah seminggu semenjak gua ngungkapin perasaan gua sama lo,” ucap Andi memulai pembicaraan. Dia sengaja menarik gua ke belakang sekolah agar tak ada yang melihat. Gua bingung. Rasanya,,, gua ingin langsung menghambur kepelukannya, mengungkapkan semua yang ada di hati. Tapi gua tahan.
“Apa sekarang gua udah bisa tahu jawaban lo?” tanyanya sambil menatap mata gua. Dalam. Gua masih diam. Berusaha mengalihkan pandangan dari matanya. Lalu mata gua menangkap seseorang yang entah sejak kapan berdiri di belakang kami.
“Keysha?” jerit gua kaget. Gua tambah bingung harus bersikap bagaimana. Dia langsung pergi sebelum gua sempat menjelaskan apa-apa.
***
Sejak kejadian itu berlalu, gua masih belum berbicara sepatah-katapun pada Keysha. Dia selalu pergi setiap gua akan menghampiri. Sampai duduk di samping gua pun dia enggak mau lagi. Dia memilih pindah. Persahabatan gua benar-benar berantakan hanya karena seorang cowok. Sekarang, gua lebih terpuruk dari sebelumnya. Selain kini gua udah dijauhi Keysha, gua juga jauh dari Andi. Gua terpaksa menolak cintanya. Gua merasa kehilangan semuanya. Sekarang gua menjalani apaupun dengan hampa. Benar-benar HAMPA!